Tuesday, May 21, 2013

Soft Skill atau Hard Skill

Istilah Hard Skill maupun Soft Skills, saya belum nemu padanan dalam Bahasa Indonesia yang pas. Biarlah,  inti tulisan ini, kan bukan pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi biarkan menggunakan istilah aslinya Hard Skill (“HS”) dan Soft Skill (“SS”). Apa perbedaan diantara keduanya? Mana yang lebih penting, dikaitkan dengan kinerja perusahaan?

Paling tidak ada 3 (tiga) perbedaan utama antara HS dan SS (http://bemycareercoach.com/1704/soft-skills/hard-skills-soft-skills.html)

1. TIngkat HS yang tinggi, lebih membutuhkan  intelegensia atau kecerdasan atau IQ (yang berperan adalah otak kiri). Sedangkan tingkat SS yang mumpuni, lebih membutuhkan kecerdasan emosional atau EQ (yang berperan otak kanan). Contoh bentuk HS meliputi matematika, fisika, akuntansi, pemrograman, keuangan, biologi, kimia, statistik, dll. Sedangkan SS meliputi self management skill dan people skill, misalnya negosiasi, selling dll. Untuk selengkapnya, terdapat 28 jenis SS (http://bemycareercoach.com/1394/soft-skills/list-soft-skills.html),.

2. HS adalah keterampilan yang berbentuk atau bersifat tetap dibutuhkan, dimanapun seorang karyawan bekerja. Sebaliknya SS, akan berubah bentuk atau memerlukan penyesuaian tergantung kepada budaya perusahaan, manajemen dan orang-orang sekeliling yang bekerja bersama. Sebagai contoh, pemograman adalah HS, dimana ukuran keberhasilan pekerjaan antara lain mampu membuat coding aplikasi system komputer terbaik, terlepas karyawan bekerja diperusahaan apapun. Sedangkan SS, adalah bagaimana cara yang bersangkutan menjelaskan aplikasi tersebut secara efektif kepada para pengguna (user). Jelas kan bedanya?

3. HS dapat dipelajari di sekolah atau dari buku-buku dan biasanya terdapat ukuran-ukuran  baku yang menunjukkan kemampuan penguasaan HS. Semisal Akuntansi -yang adalah HS- terdapat tingkatan akuntansi dasar, akuntansi menengah dan akuntansi lanjutan, kemudian ada pula sertifikasi sebangsa CPA dll. Sebaliknya pada SS, tidak tersedia jalan lempeng. SS tidak diajarkan disekolah, dan biasanya dipelajari langsung dari pekerjaan, karenanya trial and error. Memang sudah cukup banyak tersedia kursus dan buku buku panduan tentang soft skill. Itu bisa sebagai titik awal dan memberikan arahan bagaimana mendapatkan SS, tetap tidak ada petunjuk baku dan terbukti empiris paling benar bagaimana langkah demi langkah menguasai SS.

Mana yang lebih penting?
Akan sangat tergatung kepada tipe pekerjaan, yang  setidaknya bisa dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
1) Tipe pekerjaan yang membutuhkan HS lebih banyak, dan SS yang lebih sedikit, maka HS lebih penting. Contohnya montir atau operator, yang mana lebih diperlukan penguasaan alatnya (HS) daripada kemampuan berkomunikasi dengan orang lain (SS).
2) Tipe pekerjaan yang membutuhkan HS dan SS sama banyaknya, biasanya tipe pekerjaan yang berhubungan dengan layanan atau jasa. Misalnya, bankir, akuntan, pengacara. Untuk tipe pekerjaan seperti ini, HS dan SS menjadi sama penting.

3) Tipe pekerjaan yang membutuhkan HS lebih sedikit daripada SS, contoh sales person. Seorang penjual mobil tak perlu tahu banyak mengenai hal-hal teknis mobil yang dijualnya, melainkan kemampuan untuk mempersuasi dan negosiasi kepada calon pembeli menjadi lebih penting.

Secara umum menurut saya, semakin tinggi level seseorang dalam organisasi (senioritas), maka SS reletif lebih penting daripada penguasaan HS.

Hard Skill dan Soft Skill saja tidak cukup
Asumsi yang selama ini berlaku adalah bahwa seorang karyawan yang telah dibekali HS dan SS sesuai dengan tipe pekerjaan, berarti memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya tersebut dengan baik. Apakah benar? apakah sudah cukup?

Sebenarnya tidak. Karena HS dan SS saja tidak akan memastikan kinerja karyawan yang bersangkutan (lebih) sustainable. Masih ada satu lagi aspek kompetensi (selain HS dan SS) yang memastikan kinerja karyawan akan sustainable. Yakni aspek spiritualitas.

Agar dicatat, bahwa istilah spiritualitas disini berbeda dengan agama. Spiritualitas yang saya maksudkan disini adalah  kemampuan seseorang memberikan tujuan (purpose) dan makna (meaning) lebih dalam dari pekerjaan yang dilakukan, bukan hanya sekedar menjalankan atau mengerjakannya. Spiritualitas menyangkut perasaan adanya hubungan (connectedness) positif antara karyawan satu dengan lainnya dan dengan perusahaan tempatnya bekerja.  Spiritualitas yang tinggi dalam bekerja akan mampu menciptakan dan mengumpulkan energi positif dan innovatif.

Saya kesulitan menerjemahkan definsi Spiritual Skill (SS) “the ability to behave with Wisdom and Compassion, while maintaining inner and outer peace (equanimity), regardless of the circumstances” (Wigglesworth, 2010). SS menggambarkan kedewasaan sikap, yang selalu berperilaku welas asih (wisdom and compassionate) dalam menghadapi siatuasi dan kondisi apapun dalam pekerjaan. Seseorang yang memiliki SS tinggi akan bersikap positif dan tidak emosional, apapun masalah yang dihadapi.

Jelaslah bahwa karyawan yang memiliki SS yang tinggi akan lebih tahan terhadap stress, miliki kepercayaan diri yang tinggi dan energi untuk mengambil keputusan. Bottom line, karyawan dengan SS yang tinggi akan lebih happy.

Apa saja jenis Spiritual Skill?
Dari beberapa literature dapat diringkas, bahwa SS mencakup:
·        Inter connectedness : segala sesuatu adalah bagian dan atau cerminan dari sesuatu yang lain. Segala sesuatu disekeliling kita berhubungan satu dengan lainnya
·        Self-awareness : memahami diri pribadinya sendiri. Apa yang diperjuangkannya? Apa yang dipahami (believe)-nya?
·        Respect for others : memiliki kemampuan menghormati dan menghargai orang lain, termasuk privacy, kepemilikan (belongingness), agama dan gender.
·        Capacity to face adversity  : Apapun dan seberapa berat masalah yang dihadapi, pasti ada jalan keluarnya
·        Being vision and value led : memiliki pandangan melampaui saat ini (present time) serta adanya keyakinan bahwa segala sesuatu pasti menjadi baik pada akhirnya.
·        Feeling of inner peace and calm : mampu bahagia dengan lingkungan kerja, tidak mengeluh dengan kehidupan dan bersikap positif.
·        Service towards humankind : perhatian (caring) terhadap orang lain, empati dan simpati terhadap situasi dan permasalahan orang lain, serta siap membantu.
·        Providing Meaning and Purpose in Life : mampu memberi makna positif kepada kehidupan dan memiliki tujuan positif terhadap apa yang akan dilakukannya dalam hidupnya.

Jika untuk menguasai LS tak ada jalan lempeng, demikian pula untuk SS. Beberapa vendor pelatihan memang menawarkan modul SS (semisal ESQ), namun kembali, itupun hanya paduan. Ibarat pohon LS dan SS tidak cukup dengan penanaman bibit (pelatihan) melainkan harus disiram, diberi pupuk dan disiangi dengan baik. Niscaya buah dari pohon itu (kinerja perusahaan) akan  sangat ranum, manis dan menyehatkan.

Oka Widana
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.okawidana.blogspot.com
www.solusi-kampiun.com
@ahli_keuangan
@owidana