Thursday, January 16, 2014

Hutang, Apakah Diperlukan?

Catatan: Artikel ini telah dimuat dimajalah Esquire, edisi 8i, bulan November 2013


Seringkali kita mendengar dari banyak Perencana/Penasehat Keuangan (Financial Planner/Advisor) yang mewanti-wanti agar kita bersikap konservatif soal hutang ini. Bahkan ada beberapa orang yang alergi sehingga menyarankan untuk menghindari hutang.  Tak terlalu salah pandangan ini, namun bukan benar sepenuhnya. Pada jaman moderen ini, hutang merupakan bagian dari infrastruktur yang menopang perkembangan ekonomi.

Ditengah derasnya penawaran produk-produk pinjaman dari Bank (maupun perusahaan multi finance), dengan variasi fitur dan manfaat yang dijanjikan bagi nasabah, bukankah sebaiknya kita memanfaatkannya? Karena menurut saya, tidak ada satu Bank pun yang menawarkan pinjaman, dengan tujuan untuk mempersulit nasabah. Bank berharap agar pinjaman yang diberikannya dapat dikembalikan dengan lancar berikut bunganya. Justru kita, para nasabah inilah, yang menjerat diri sendiri dengan hutang yang berlebihan, tak produktif atau salah sasaran .

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda. Hutang justru diperlukan. Dengan catatan, sepanjang hutang dipakai untuk membiayai hal-hal yang mendatangkan mafaat dalam jangka panjang. Saya memberi penekanan pada ”manfaat dalam jangka panjang”, yang merupakan kunci menjadikan hutang untuk keuntungan kita.

Hutang dapat Anda pakai untuk meningkatkan assets (nilai kekayaan) dengan cepat. Sebaliknya hutang bisa juga memiskinkan Anda. Terserah kepada kita masing-masing dalam mengelola hutang itu. Makin piawai Anda mensiasati penggunaan hutang, ada bisa makin agresif. Tentu dalam kondisi apapun jangan melampaui batas yaitu penghasilan Anda saat sekarang dalam membayar angsuran atau pokok hutnag jatuh tempo. Kembali saya tekankan istilah  ”penghasilan saat sekarang”, bukan penghasilan yang anda harapkan terjadi dimasa yang akan datang. Ini merupakan kunci sehatnya keuangan Anda (walau punya hutang).

Bagaimana logikanya menyebut hutang sebagai alat untuk meningkatkan kekayaan? Sederhana saja jawabanannya, karena peningkatan nilai aset-aset tertentu lebih cepat daripada peningkatan penghasilan Anda. Karenanya hutang bisa menjadi jalan keluar, yakni selama memenuhi syarat atau kondisi sebagai berikut:

1.      Hutang prioritas
Disebut hutang prioritas karena inilah hutang yang harus secepat mungkin Anda buat ketika Anda memiliki penghasilan, yaitu hutang untuk membeli rumah yang akan ditempati keluarga (istri/suami dan anak-anak). Ini menyangkut kewajiban melindungi harta yang paling bernilai bagi kita yakni keluarga (Istri/suami dan anak-anak). Saya sebut hutang prioritas, karena biasanya pada saat membeli rumah pertama, kita belum punya uang yang cukup untuk membeli rumah, sedangkan harga rumah terus menggelembung. Alasan lain berhutang untuk membeli rumah pertama rumah juga berperan meningkatkan produktifitas dan sebagai alat investasi.



2.      Hutang untuk produktivitas
Pembelian barang-barang dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas kerja, boleh dengan berhutang. Yang disebut peningkatan produktifitas jika terjadi peningkatan penghasilan. Jadi mau beli kendaraan (mobil, motor), notebook ataupun tablet silahkan saja, selama Anda yakin bahwa barang-barang itu akan meningkatkan prestasi kerja yang bermuara pada naiknya penghasilan Anda. Sehingga, dalam hal ini hutang juga meningkatkan kekayaan Anda, secara tak langsung. Patut diingat bahwa peningkatan produktifitas, sama sekali tak berhubungan dengan peningkatan gengsi. Artinya ketika memilih alat-alat peningkatan produktifitas dengan berhutang, aspek fungsionalitas menjadi kriteria terpenting. Gampangnya, beli manfaat bukan beli merek.

3.      Hutang tujuan investasi
Pembiayaan investasi boleh berasal dari hutang jika hasil dari investasi lebih besar dari biaya hutang. Keuntungan investasi pasti akan memperbaiki penghasilan Anda dimasa yang akan datang dan meningkatkan nilai kekayaan Anda. Yang harus diingat bahwa resiko kegagalan melekat pada setiap investasi, karenanya Anda harus berhitung benar dalam hal ini. Saya tidak sepenuhnya mengikuti nasehat beberapa Perencana/Penasehat Keuangan yang bilang bahwa investasi harus hanya dibiayai dari tabungan Anda. Investasi pada propery (rumah, tanah) dan emas bisa menggunakan hutang karena menjanjikan keuntungan yang stabil dan cukup bagus. Akan tetapi untuk investasi pada saham, obligasi, reksa dana, saya kira sebaiknya tetap dibiayai dari tabungan Anda. Perlu saya tambahkan bahwa pendidikan yang lebih baik untuk Anda dan keluarga termasuk investasi, maka sangat syah jika Anda berhutang untuk tujuan tersebut.

4.      Hutang keadaan darurat
Jika keadaan darurat, seperti keluarga sakit, tak akan ada yang menyalahkan Anda karena berhutang Menyangkut  hidup atau  mati, maka hutang tak menjadi tabu.

Untuk menjaga agar hutang tidak memiskinkan Anda,  maka  hal-hal dibawah harus dihindari, yakni:

1.      Jangan berhutang untuk barang-barang pokok sehari-hari.
Ini soal paradigma bahwa, kita bekerja atau berusaha menghasilkan pendapatan (uang) minimal cukup untuk membeli barang-barang pokok sebangsa makanan dan minuman. Memanjakan diri dengan makanan dan minuman dari hutang sangat berbahaya, karena Anda secara mental tak lagi mampu mengenali batas kemampuan penghasilan Anda. Oleh karenanya bayarlah tunai semua kebutuhan pokok Anda atau jika menggunakan kartu kredit hanya sekedar untuk kemudahan pembayaran.

2.      Jangan berhutang untuk membiayai gaya hidup
Gengsi dan gaya hidup merupakan godaan terbesar untuk berhutang. Apalagi iklan, acara TV, media sosial seolah-olah menjadikan atribut fisik sebagai satu-satu indikator kualitas seseorang. Gaya hidup dipersepsikan sebagai simbol eksistensi seseorang dalam kelompoknya. Padahal jika diketahui orang lain bahwa gengsi dan gaya hidup didapat dari hutang, maka akan hilanglah seketika nilai gengsi dan gaya hidup itu.

3.      Jangan berhutang untuk orang lain
Kadang teman atau keluarga datang meminta bantuan Anda mengambil hutang atas namanya. Alasannya bisa disebabkan yang bersangkutan tak memiliki akses atau kalo mengajukan sendiri  dirasakan tak berhasil. Apapun alasannya, jangan pernah lakukan itu. Hutang yang sehat apabila pendapatan Anda sekarang mampu untuk membayar pokok dan bunganya. Pendapatan Anda, bukan pendapatan orang lain. Anda tak akan pernah bisa memantau atau mengendalikan pendapatan orang lain.

4.      Jangan berhutang untuk di-kemplang
Tak boleh sekalipun dalam benak terlintas untuk tidak membayar hutang.  Sekali Anda ngemplang apalagi kabur, maka kondite Anda rusak, tak akan ada orang yang percaya lagi sama Anda. Mental Anda juga rusak, karena Anda membenarkan diri sendiri untuk kabur dari kewajiban Anda. Makanya dari awal Anda harus berhitung benar, pendapatan sekarang (saat ini) mampu tidak membayar pokok dan bunga total hutang sampai lunas. Sebagai pedoman, biasanya dipakai ukuran maksimal sepertiga penghasilan dipakai untuk mambayar angsuran hutang. Jika melebihi sepertiga, stop hutang, atau tingkatkan dulu penghasilan Anda.

Jika Anda sudah memahami kapan hutang bermanfaat dan kapan hutang harus dihindari, berikutnya Anda harus tahu fitur hutang, beberapa diantaranya:

1.      Sumber hutang
Sebaiknya berhutang dari lembaga resmi semacam Bank atau lembaga keuangan bukan bank (multifinance, pegadaian). Institusi resmi akan menjamin keterbukaan, pelayaan dan fairness bagi Anda sebagi debitur. Umumnya pengawasan terhadap institusi ini sangat ketat (dilakukan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan) Hindari berhutang dari lembaga tidak resmi apalagi perorangan, karena akan repot bagi Anda jika terjadi masalah.

2.      Jenis hutang
Sesuaikan tujuan pembiayaan dengan jenis hutang. Untuk beli rumah pakai Kredit Pemilikan Rumah (KPR), jangan menggunakan multiguna. Memang kredit multiguna fleksibel, namun mengenakan bunga dna biaya lebih mahal. 

3.      Jangka waktu
Makin panjang jangka waktu biasanya makin kecil angsuran. Akan tetapi tetap harus disesuaikan dengan brang yang kita beli. Barang seperti gadget dan komputer umumnya tak lebih dari dua tahun sedangkan kendaraan maksimal 5 tahun. Khusus untuk rumah dan tanah, makin lama makin bagus. Prospek property di Indonesia masih baik, dimana pertumbuhan nilai dna harganya masih menjanjikan dalam jangka panjang.

4.      Suku bunga
Persaingan yang ketat, menekan suku bunga. Tetap Anda harus waspada dengan istilah-istilah yang dipakai. Intinya, tanyakan suku bunga efektif yakni suku bunga yang dihitung dari pokok yang turun karena adanya angsuran. Kredit multiguna, KPM dan KTA menggunakan suku bunga flat (tetap) yang dihitung dari pokok awal, bukan pokok menurun). Sebagai contoh, kalau Anda dikenakan suku bunga 5% flat setahun artinya itu sama dengan suku bunga 10% pertahun efektif.

5.      Agunan
Rumus sederhananya jika ada jaminan, maka bunga kecil. Tanpa jaminan, bunga mahal. Usahakan barang yang kita beli sebagai agunan (misalnya KPR, KPM). Mengenai pembelian gadget dan komputer, dipersamakan sebagai hutang tanpa agunan, sehingga bunga yang dikenakan cukup tinggi.

Sebagai kesimpulan hutang memang memiliki dua sisi. Saya percaya bahwa pengelolaan hutang yang bagus, akan membuat hidup kita nyaman. Itulah sesungguhnya arti financial freedom.Ketika Anda leluasa menikmati hidup dari penghasilan Anda, walau Anda tetap punya hutang.

Oka Widana
www.okawidana.blogspot.com
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.solusi-kampiun.blogspot.com

Wednesday, September 25, 2013

Pemimpin Mandor vs Pemimpin Hebat

Seringkali kita mendapat gambaran Pemimpin yang baik adalah yang disatu sisi, gayanya kekeluargaan, supple dan low profile. Disis yang lain, dia haruslah cukup tegas untuk memastikan peraturan dan ketentuan perusahaan dijalankan dengan sebaiknya-baiknya. Pemimpin  yang baik tak akan segan mengeluarkan teguran bahkan peringatan, sebagaimana tak akan juga pelit, yang bersangkutan untuk memuji dan memberikan penghargaan jika anak buahnya berprestasi. Pemimpin yang baik memiliki standar etika kerja maupun moral yang tinggi. Menjadi role model bagi para bawahan, namun cukup rendah hati menerima kritik dan meminta maaf jika berbuat salah.

Sayangnya  realita dalam berbagai organisasi dan perusahaan,  tidak seperti itu. Maksud saya, Pemimpin perusahaan sebagian besar tidak seperti gambaran ideal diatas. Target KPI  (terutama yang sifatnya finansial, alias profit) telah mendorong kesamping sisi humanis Pemimpin, dan mengubahnya hanya menjadi Mandor. Mandor alias tukang perintah yang sekedar menginginkan tugas beres dilaksanakan dan untung. Ukuran keberhasilan Pemimpin pun berubah, yakni seberapa besar dia mampu menghasilkan keuntungan finansial bagi perusahaan.

Pemimpin Mandor mudah dikenali, dengan beberapa ciri antara lain:
  1. Sibuk bercerita soal prestasinya dimasa lalu, lupa bahwa masa depan  punya ceritanya sendiri.
  2. Asyik mendengarkan suaranya sendiri, tidak punya waktu memperhatikan apalagi mencerna masukan par abawahannya.
  3. Tak malu mengklaim semua pencapaian atas jasanya sebagai pemimpin, padahal dengan mengakui prestasi bawahannya, otomatis menjadi prestasinya juga sebagai boss.
  4. Fokus kepada tujuan jangka pendek dan abai terhadap visi pengembangan organisasi. Akibatnya banyak anggota organisasi yang tak kerasan, karyawan keluar masuk, karena merasa dianggap sapi perahan.
  5. Menciptakan lingkungan kerja sesuai egonya, sedangkan dalam suatu organisasi banyak ego lainnya, walaaupun hanya seorang bawahan.
  6. Menjadi jenderal yang jago teori dari belakang meja, bukannya jenderal lapangan yang mampu memimpin dari semua lini.

Dalam hal ini, siapapun yang menjadi Pemimpin harus berhati-hati, karena organisasi dijalankan oleh manusia. Target finansial penting, namun memanusiakan anggota organisasi merupakan tujuan yang lebih utama.

Saya cenderung menyarankan agar tujuan finansial tadi diangap sebagai TUJUAN ANTARA. Kenapa demikian ? karena jelas bahwa tujuan finansial tidak pernah ”fixed” (moving target) setiap tahun umumnya naik. Bahkan dalam banyak contoh margin kenaikannya yang menjadi KPI.

Bagaimana mungkin berhasil dalam jangka panjang, seorang Pemimpin mandor terus menerus ”menghardik” bawahannya agar tiap tahun bisa mencapai target finansial yang terus naik? Jawabannya jelas, TIDAK.

Kebalikan dari Pemimpin mandor adalah pemimpin humanis yang memanusiakan anggota organisasinya.  Disebut Pemimpin humanis apabila dia sanggup melayani, men-”transform” dan memberdayakan (enpower) semua bawahannya agar mampu secara bersama-sama, bahu membahu, bergotong royong menciptakan organisasi hebat (great organization).

Yang berhak melabeli dirinya, organisasi hebat jika:
  1. Sanggup dibebani target financial yang terus bergerak.
  2. Siapapun orang yang keluar darinya, akan menjadi orang hebat diorganisasi yang dimasukinya dan membuat organisasi barunya menjadi hebat.
  3. Siapapun orang baru yang masuk kedalamnya akan larut dan menyesuaikan diri, kemudian merubah dirinya menjadi orang hebat.
  4. Memiliki daya juang tinggi dalam situasi sulit
  5. Anggota organisasi menjadi anggota keluarga

Pemimpin humanis yang menciptakan organisasi hebat, layak diberi predikat sebagai Pemimpin hebat. Tipe Pemimpin hebatkah yang akan memiliki jaminan keberlangsungan pencapain tujuan apapun yang dibebankan kepada organisasi yang dipimpinnya. 


Oka Widana
okawidana.blogspot.com
solusi-kampiun.blogpsot.com
@ahli_keuangan
@owidana

Thursday, June 20, 2013

Soal Gadget


Smartphone semacam Black berry, Android (semisal merek Samsung, Sony , HTC dlsb) dan Iphone tidak dapat dipungkiri sudah menjadi bagian perlengkapan pribadi harian seseorang. Tidak memandang eksekutif, direksi, manajer maupun karyawan biasa, semua menyandangnya, malah kebanyakan lebih dari satu. Saya perhatikan, demikian attachment semua orang terhadap gadget-nya masing-masing, barangkali ketika tidur saja, barulah itu gadget lepas dari jangkauan.

Ketika rapat perusahaan, bertemu client, bahkan acara makan malam beserta keluarga, seseorang masih saja tekun, entah sekedar mengecek email masuk, browsing berita, status update di jaringan sosial (twiter, facebook) atau berchating ria (via BBM, YM, Gtalk atau Whatsup). Apakah sikap seseorang yang begitu terhubung dan makmum dengan gadget sudah cukup menggangu? Relatif sih. Jika sedang sorangan wae nunggu busway atau KRL, silahkan bergadget-autis. Akan tetapi ketika menghadiri rapat perusahaan, client meeting atau makan dengan keluarga, kita harus focus. Gadget harus disingkirkan untuk sementara.

Beberapa kali ketika memimpin rapat, saya  menegur peserta, karena yang bersangkutan asyik dengan gadgetnya. Memang seringkali, peserta yang saya tegur itu beralasan bahwa dia sedang BBM-an dengan client menyangkut hal penting. Akan tetapi menurut pengalaman saya, itu hanya alasan. Sebenarnya, karena yang bersangkutan bosan dengan isi rapat, merasa tak relevan atau memang cuek. Hanya sedikit yang benar-benar harus merespon BBM saat itu juga, karena terkait hidup mati perusahaan. Gak lah…..jikapun demikian, bagi saya tak relevan jika peserta rapat itu datang ke rapat, lebih baik dia memprioritaskan untuk membereskan masalahnya dengan segera.

Didalam level perusahaan saya sangat menyarankan agar ditanamkan consensus dan culture yang jelas. Bahwa gadget adalah salah satu tools untuk komunikasi, bukan satu-satunya, anyway bukan yang paling utama pula. Semua alat komunikasi harus dimanfaatkan maksimal, termasuk komunikasi tatap muka dan bicara langsung (bukan via SMS atau BBM). Misalnya, jika menghadiri rapat, maka semua gadget harus diletakkan diatas meja dan silent mode. Otomatis peserta rapat akan rikuh, ketika mau membuka gadgetnya at least berfikir beberapa kali. Jika memang harus memberikan respon (sekali lagi sangat jarang), peserta rapat itu hendaknya keluar ruang rapat (even sekedar membalas BBM atau email) agar yang lain tak terganggu.

Lebih jauh perusahaan harus menekankan bahwa komunikasi sebaiknya dilakukan langsung, tatap muka atau setidaknya bicara lewat telpon. Terus terang saya heran dengan kebiasaan di Indonesia, dimana BBM (tadinya SMS) lebih dominan daripada komunikasi telpon. Mungkin karena tak bertemu langsung, sehingga jika bohong tak ketahuan? Di beberapa perusahaan yang memfasilitas allowance untuk telpon, sebaiknya membentuk CUG (Client User Group) dibawah satu operator tertentu,  sehingga komunikasi antar anggota CUG bisa gratis (ada abodemen bulanan).

Saya merekomendasikan penggunaan email daripada SMS/BBM/Whatsup, toh dengan email dimungkinkan menulis pesan yang lebih panjang, yang membuat efektifitas komunikasi via email lebih tinggi. So, bagaimana dengan conference atau group discussión? Sekali lagi bagi saya group discussión via BBM/Whatsup sebaiknya dihindari. Toh tersedia fasilitas conference call dan multi-recepients pada email atau memanfaatkan mailing list semacam yahoogroups atau googlegroups.

Saya memandang, dengan memberikan penekanan prioritas  komunikasi langsung (at least via telpon), akan meruntuhkan barrier komunikasi dari seluruh lini organisasi. Para karyawan level paling bawah, akan dengan tak sungkan menelpon  pejabat yang levelnya jauh diatasnya. Perusahaan tak perlu susah payah mendorong karyawan berani “speak up” yakni menyuarakan hal-hal yang tidak pada tempatnya yang terjadi dilapangan. Memang untuk ukuran budaya timur ada beberapa hal menyangkut kesopan-santunan yang perlu ditegakkan dalam berkomunikasi. Akan tetapi menurut saya hal ini soal kecil, efektifitas komunikasi dari seluruh lini perusahaan merupakan capability penting yang dimiliki perusahaan.

Salam,


Oka Widana
www.solusi-kampiun.blogspot.com
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.okawidana.blogspot.com
@owidana
@ahli_keuangan


Tuesday, May 21, 2013

Soft Skill atau Hard Skill

Istilah Hard Skill maupun Soft Skills, saya belum nemu padanan dalam Bahasa Indonesia yang pas. Biarlah,  inti tulisan ini, kan bukan pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi biarkan menggunakan istilah aslinya Hard Skill (“HS”) dan Soft Skill (“SS”). Apa perbedaan diantara keduanya? Mana yang lebih penting, dikaitkan dengan kinerja perusahaan?

Paling tidak ada 3 (tiga) perbedaan utama antara HS dan SS (http://bemycareercoach.com/1704/soft-skills/hard-skills-soft-skills.html)

1. TIngkat HS yang tinggi, lebih membutuhkan  intelegensia atau kecerdasan atau IQ (yang berperan adalah otak kiri). Sedangkan tingkat SS yang mumpuni, lebih membutuhkan kecerdasan emosional atau EQ (yang berperan otak kanan). Contoh bentuk HS meliputi matematika, fisika, akuntansi, pemrograman, keuangan, biologi, kimia, statistik, dll. Sedangkan SS meliputi self management skill dan people skill, misalnya negosiasi, selling dll. Untuk selengkapnya, terdapat 28 jenis SS (http://bemycareercoach.com/1394/soft-skills/list-soft-skills.html),.

2. HS adalah keterampilan yang berbentuk atau bersifat tetap dibutuhkan, dimanapun seorang karyawan bekerja. Sebaliknya SS, akan berubah bentuk atau memerlukan penyesuaian tergantung kepada budaya perusahaan, manajemen dan orang-orang sekeliling yang bekerja bersama. Sebagai contoh, pemograman adalah HS, dimana ukuran keberhasilan pekerjaan antara lain mampu membuat coding aplikasi system komputer terbaik, terlepas karyawan bekerja diperusahaan apapun. Sedangkan SS, adalah bagaimana cara yang bersangkutan menjelaskan aplikasi tersebut secara efektif kepada para pengguna (user). Jelas kan bedanya?

3. HS dapat dipelajari di sekolah atau dari buku-buku dan biasanya terdapat ukuran-ukuran  baku yang menunjukkan kemampuan penguasaan HS. Semisal Akuntansi -yang adalah HS- terdapat tingkatan akuntansi dasar, akuntansi menengah dan akuntansi lanjutan, kemudian ada pula sertifikasi sebangsa CPA dll. Sebaliknya pada SS, tidak tersedia jalan lempeng. SS tidak diajarkan disekolah, dan biasanya dipelajari langsung dari pekerjaan, karenanya trial and error. Memang sudah cukup banyak tersedia kursus dan buku buku panduan tentang soft skill. Itu bisa sebagai titik awal dan memberikan arahan bagaimana mendapatkan SS, tetap tidak ada petunjuk baku dan terbukti empiris paling benar bagaimana langkah demi langkah menguasai SS.

Mana yang lebih penting?
Akan sangat tergatung kepada tipe pekerjaan, yang  setidaknya bisa dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
1) Tipe pekerjaan yang membutuhkan HS lebih banyak, dan SS yang lebih sedikit, maka HS lebih penting. Contohnya montir atau operator, yang mana lebih diperlukan penguasaan alatnya (HS) daripada kemampuan berkomunikasi dengan orang lain (SS).
2) Tipe pekerjaan yang membutuhkan HS dan SS sama banyaknya, biasanya tipe pekerjaan yang berhubungan dengan layanan atau jasa. Misalnya, bankir, akuntan, pengacara. Untuk tipe pekerjaan seperti ini, HS dan SS menjadi sama penting.

3) Tipe pekerjaan yang membutuhkan HS lebih sedikit daripada SS, contoh sales person. Seorang penjual mobil tak perlu tahu banyak mengenai hal-hal teknis mobil yang dijualnya, melainkan kemampuan untuk mempersuasi dan negosiasi kepada calon pembeli menjadi lebih penting.

Secara umum menurut saya, semakin tinggi level seseorang dalam organisasi (senioritas), maka SS reletif lebih penting daripada penguasaan HS.

Hard Skill dan Soft Skill saja tidak cukup
Asumsi yang selama ini berlaku adalah bahwa seorang karyawan yang telah dibekali HS dan SS sesuai dengan tipe pekerjaan, berarti memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya tersebut dengan baik. Apakah benar? apakah sudah cukup?

Sebenarnya tidak. Karena HS dan SS saja tidak akan memastikan kinerja karyawan yang bersangkutan (lebih) sustainable. Masih ada satu lagi aspek kompetensi (selain HS dan SS) yang memastikan kinerja karyawan akan sustainable. Yakni aspek spiritualitas.

Agar dicatat, bahwa istilah spiritualitas disini berbeda dengan agama. Spiritualitas yang saya maksudkan disini adalah  kemampuan seseorang memberikan tujuan (purpose) dan makna (meaning) lebih dalam dari pekerjaan yang dilakukan, bukan hanya sekedar menjalankan atau mengerjakannya. Spiritualitas menyangkut perasaan adanya hubungan (connectedness) positif antara karyawan satu dengan lainnya dan dengan perusahaan tempatnya bekerja.  Spiritualitas yang tinggi dalam bekerja akan mampu menciptakan dan mengumpulkan energi positif dan innovatif.

Saya kesulitan menerjemahkan definsi Spiritual Skill (SS) “the ability to behave with Wisdom and Compassion, while maintaining inner and outer peace (equanimity), regardless of the circumstances” (Wigglesworth, 2010). SS menggambarkan kedewasaan sikap, yang selalu berperilaku welas asih (wisdom and compassionate) dalam menghadapi siatuasi dan kondisi apapun dalam pekerjaan. Seseorang yang memiliki SS tinggi akan bersikap positif dan tidak emosional, apapun masalah yang dihadapi.

Jelaslah bahwa karyawan yang memiliki SS yang tinggi akan lebih tahan terhadap stress, miliki kepercayaan diri yang tinggi dan energi untuk mengambil keputusan. Bottom line, karyawan dengan SS yang tinggi akan lebih happy.

Apa saja jenis Spiritual Skill?
Dari beberapa literature dapat diringkas, bahwa SS mencakup:
·        Inter connectedness : segala sesuatu adalah bagian dan atau cerminan dari sesuatu yang lain. Segala sesuatu disekeliling kita berhubungan satu dengan lainnya
·        Self-awareness : memahami diri pribadinya sendiri. Apa yang diperjuangkannya? Apa yang dipahami (believe)-nya?
·        Respect for others : memiliki kemampuan menghormati dan menghargai orang lain, termasuk privacy, kepemilikan (belongingness), agama dan gender.
·        Capacity to face adversity  : Apapun dan seberapa berat masalah yang dihadapi, pasti ada jalan keluarnya
·        Being vision and value led : memiliki pandangan melampaui saat ini (present time) serta adanya keyakinan bahwa segala sesuatu pasti menjadi baik pada akhirnya.
·        Feeling of inner peace and calm : mampu bahagia dengan lingkungan kerja, tidak mengeluh dengan kehidupan dan bersikap positif.
·        Service towards humankind : perhatian (caring) terhadap orang lain, empati dan simpati terhadap situasi dan permasalahan orang lain, serta siap membantu.
·        Providing Meaning and Purpose in Life : mampu memberi makna positif kepada kehidupan dan memiliki tujuan positif terhadap apa yang akan dilakukannya dalam hidupnya.

Jika untuk menguasai LS tak ada jalan lempeng, demikian pula untuk SS. Beberapa vendor pelatihan memang menawarkan modul SS (semisal ESQ), namun kembali, itupun hanya paduan. Ibarat pohon LS dan SS tidak cukup dengan penanaman bibit (pelatihan) melainkan harus disiram, diberi pupuk dan disiangi dengan baik. Niscaya buah dari pohon itu (kinerja perusahaan) akan  sangat ranum, manis dan menyehatkan.

Oka Widana
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.okawidana.blogspot.com
www.solusi-kampiun.com
@ahli_keuangan
@owidana

Saturday, April 27, 2013

Memodali Usaha Baru

Memulai usaha dengan tanpa atau sedikit modal, BUKAN hal yang sulit.  Tinggal nyalakn notebook anda, koneksikan dengan jaringan internet, buka toko online (misalnya Kaskus atau Tokobagus), saat itu juga, Anda bisa menjadi pengusaha. Melalui toko online Anda bisa jual apa saja dari mulai jual beli barang yang tak terpakai yang menumpuk di gudang rumah, jual jasa otak (konsultasi, guru) dan lain-lain. Bahkan menjual barang yang belum Anda milikipun, bisa kok. 

Lengkapi dengan sedikit foto dari barang yang akan Anda jual, entah itu foto asli atau foto hasil browsing dari internet. Kemudian untuk sedikit membantu menyebarluaskan informasi toko online Anda, buat broadcast kepada kawan-kawan Anda via BBM atau facebook, beres.

Akan tetapi bagaimana jika Anda bermaksud mendirikan usaha yang sedikit lebih "serius" dalam arti skala, jenis barang dan bisnis model yang lebih kompleks, maka tak mungkin sesederhana buka toko online. Kebanyakan kendala pertama yang dihadapi adalah modal.

Jika Anda memiliki assets sebangsa rumah, mobil atau motor, sekuritisasi assest adalah jalan keluar yang mudah. Sekuritisasi assest, dalam bahasa gaul sering disebut "nyekolahin" entah nyekolahin sertfikat rumah atau BPKB mobil, gampangnya mengagunkan asset kita kepada perusahaan pembiayaan untuk mendapatkan sejumlah uang yang dipakai modal usaha. Biasanya, karena ingin gampang maka jenis kredit yang diambil adalah jenis multiguna. Keuntungannya, bank atau perusahaan  pembiayaan gak banyak cincong nanya ini itu soal bisnis yang akan dijalankan, namun kerugiannya, bunga yang dibebankan sangat tinggi.

Jika Anda punya bisnis lain sebelumnya, kecuali bisnis baru Anda ini sama sekali tak berhubungan dengan bisnis lama ataupun Anda sama sekali tak punya pengalaman, sebenarnya juga tak terlalu sulit. Bisnis lama Anda bisa menjadi "modal" untuk mendapatkan kredit. 

Syarat pertama Anda harus membuat "business plan" yang baik. Business plan dapat dikategorikan baik paling tidak memiliki beberapa unsur yaitu penjelasan mengenai target dan potensi pasar, barang yang akan jula, product preposition (apa yang mebuat produk anda bisa laku dipasaran) dan business model yang akan Anda terapkan. Bagi financier, hal-hal itu sama pentingnya, sehingga Anda harus menyajikan informasi ini sejelas mungkin.

Mengenai konten Business Plan, anda bisa browse via google, banyak sekali template gratisan yang sangat bagus. Karenanya saya tak akan bahas hal itu lagi disini secara detail. Hanya, saya ingin ingatkan bahwa  business plan yang baik harus sedikit konservatif. Mungkin ini agak bertolak belakang dengan mental pengusaha yang biasanya agresif. Bagi saya agresif ketika jualan itu mesti tetapi konservatif ketika membuat rencana merupakan kebijaksanaan.
Bagi Anda yang benar-benar memulai usaha pertama kali, maka membuat business plan juga mandatory. Tentu saja tingkat kesulitan untuk mendapatkan dukungan modal lebih tinggi daripada contoh-contoh yag saya sampaikan diatas.

Dibanyak negara, banyak invetor yang memang mencari start-up company dengan prospek yang bagus, misalnya dibidang IT/Software. Sayang di negara kita ini saya jarang mendengar itu. So, bagaimana dengan kondisi seperti ini?

Saya hendak merekomendasikan perbankan syariah, karena mereka memiliki skema "musyarakah" yakni mereka memberi kredit yang sifatnya penyertaan modal. Tidak ada bunga atas kredit tersebut melaikan bagi hasil dengan nisbah (rasio) tertentu sesuai kesepakatan awal. Balik lagi, even dengan perbankan syariahpun, business plan adalah wajib hukumnya.

Terkahir, seorang pengusaha yang sudah karatan atau yang baru mulai, selalu menyimpan prinsip bahwa kejujuran adalah hal utama. Namun, kemanfaatan usaha kita bagi komunitas yang lebih luas, bagi saya bernilai lebih tinggi dari kejujuran tadi. Letak kemanusiaan adalah kemanfaatan bagi orang lain. Ini penting sebagai bahan bakar perjuangan Anda dalam berbisnis.


Oka Widana
okawidana.blogspot.com
ahlikeuangan-indonesia.com
solusi-kampiun.blogspot.com

Monday, April 22, 2013

Awal Mula

SALAM KAMPIUN
Apa lagi ini? kurang kerjaan kali? sampah? buang waktu .....

Anda bisa tuliskan apapun komentar yang serta merta terbersit difikiran Anda. Well, persis ini juga blog tempat saya menuangkan apapun yang terbersit dalam fikiran saya soal pernak-pernik manajemen perusahaan.

Saya tak hendak menganggap bahwa diri saya jagoan dibidang manajemen perusahaan, mengerti sedikit mungkin, namun soal mencermati masalah, mengambil dan mengolah data relevan, mengambil keputusan dan kosisten lalu mengamati hasilnya, menurut saya bisa dilakukan siapapun, untuk menjadi kampiun.

Kampiun artinya jago, unggulan, salah satu yang terhebat, juara. Menjadi kampiun adalah soal proses namun juga mengenai mental. Diatas itu semua, kampiun berkenaan dengan  sikap (attitude). Setiap tulisan saya, akan mencakup tiga hal itu, PMS (Proses, Mental dan Sikap).

Dalam hal penanganan suatu masalah banyak metode bisa ditempuh. Beda sudut pandang, beda pula solusi yang diusulkan. Ada satu dua atau tiga solusi yang layak diimplementasikan. AKan tetapi percayalah hanya adalah satu solusi yang benar-benar tepat. Solusi Kampiun!!


Oka Widana