Seringkali kita
mendengar dari banyak Perencana/Penasehat Keuangan (Financial Planner/Advisor)
yang mewanti-wanti agar kita bersikap konservatif soal hutang ini. Bahkan ada
beberapa orang yang alergi sehingga menyarankan untuk menghindari hutang. Tak terlalu salah pandangan ini, namun bukan
benar sepenuhnya. Pada jaman moderen ini, hutang merupakan bagian dari
infrastruktur yang menopang perkembangan ekonomi.
Ditengah derasnya penawaran produk-produk pinjaman dari
Bank (maupun perusahaan multi finance), dengan variasi fitur dan manfaat yang
dijanjikan bagi nasabah, bukankah sebaiknya kita memanfaatkannya? Karena
menurut saya, tidak ada satu Bank pun yang menawarkan pinjaman, dengan tujuan
untuk mempersulit nasabah. Bank berharap agar pinjaman yang diberikannya dapat
dikembalikan dengan lancar berikut bunganya. Justru kita, para nasabah inilah,
yang menjerat diri sendiri dengan hutang yang berlebihan, tak produktif atau
salah sasaran .
Saya memiliki pandangan yang agak berbeda. Hutang justru
diperlukan. Dengan catatan, sepanjang hutang dipakai untuk membiayai hal-hal
yang mendatangkan mafaat dalam jangka panjang. Saya memberi penekanan pada
”manfaat dalam jangka panjang”, yang merupakan kunci menjadikan hutang untuk
keuntungan kita.
Hutang dapat Anda pakai untuk meningkatkan assets (nilai
kekayaan) dengan cepat. Sebaliknya hutang bisa juga memiskinkan Anda. Terserah
kepada kita masing-masing dalam mengelola hutang itu. Makin piawai Anda
mensiasati penggunaan hutang, ada bisa makin agresif. Tentu dalam kondisi
apapun jangan melampaui batas yaitu penghasilan Anda saat sekarang dalam
membayar angsuran atau pokok hutnag jatuh tempo. Kembali saya tekankan istilah ”penghasilan saat sekarang”, bukan penghasilan
yang anda harapkan terjadi dimasa yang akan datang. Ini merupakan kunci
sehatnya keuangan Anda (walau punya hutang).
Bagaimana logikanya menyebut hutang sebagai alat untuk
meningkatkan kekayaan? Sederhana saja jawabanannya, karena peningkatan nilai aset-aset
tertentu lebih cepat daripada peningkatan penghasilan Anda. Karenanya hutang
bisa menjadi jalan keluar, yakni selama memenuhi syarat atau kondisi sebagai berikut:
1.
Hutang prioritas
Disebut hutang prioritas karena inilah hutang yang harus secepat mungkin
Anda buat ketika Anda memiliki penghasilan, yaitu hutang untuk membeli rumah
yang akan ditempati keluarga (istri/suami dan anak-anak). Ini menyangkut
kewajiban melindungi harta yang paling bernilai bagi kita yakni keluarga
(Istri/suami dan anak-anak). Saya sebut hutang prioritas, karena biasanya pada
saat membeli rumah pertama, kita belum punya uang yang cukup untuk membeli
rumah, sedangkan harga rumah terus menggelembung. Alasan lain berhutang untuk
membeli rumah pertama rumah juga berperan meningkatkan produktifitas dan
sebagai alat investasi.
2.
Hutang untuk produktivitas
Pembelian
barang-barang dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas kerja, boleh
dengan berhutang. Yang disebut peningkatan produktifitas jika terjadi
peningkatan penghasilan. Jadi mau beli kendaraan (mobil, motor), notebook
ataupun tablet silahkan saja, selama Anda yakin bahwa barang-barang itu akan
meningkatkan prestasi kerja yang bermuara pada naiknya penghasilan Anda.
Sehingga, dalam hal ini hutang juga meningkatkan kekayaan Anda, secara tak
langsung. Patut diingat bahwa peningkatan produktifitas, sama sekali tak
berhubungan dengan peningkatan gengsi. Artinya ketika memilih alat-alat
peningkatan produktifitas dengan berhutang, aspek fungsionalitas menjadi
kriteria terpenting. Gampangnya, beli manfaat bukan beli merek.
3.
Hutang tujuan investasi
Pembiayaan investasi
boleh berasal dari hutang jika hasil dari investasi lebih besar dari biaya
hutang. Keuntungan investasi pasti akan memperbaiki penghasilan Anda dimasa
yang akan datang dan meningkatkan nilai kekayaan Anda. Yang harus diingat bahwa
resiko kegagalan melekat pada setiap investasi, karenanya Anda harus berhitung
benar dalam hal ini. Saya tidak sepenuhnya mengikuti nasehat beberapa
Perencana/Penasehat Keuangan yang bilang bahwa investasi harus hanya dibiayai
dari tabungan Anda. Investasi pada propery (rumah, tanah) dan emas bisa
menggunakan hutang karena menjanjikan keuntungan yang stabil dan cukup bagus.
Akan tetapi untuk investasi pada saham, obligasi, reksa dana, saya kira
sebaiknya tetap dibiayai dari tabungan Anda. Perlu saya tambahkan bahwa
pendidikan yang lebih baik untuk Anda dan keluarga termasuk investasi, maka
sangat syah jika Anda berhutang untuk tujuan tersebut.
4.
Hutang keadaan darurat
Jika keadaan
darurat, seperti keluarga sakit, tak akan ada yang menyalahkan Anda karena
berhutang Menyangkut hidup atau mati, maka hutang tak menjadi tabu.
Untuk menjaga agar hutang tidak memiskinkan Anda, maka hal-hal dibawah harus dihindari, yakni:
1.
Jangan berhutang untuk barang-barang pokok sehari-hari.
Ini soal paradigma bahwa, kita bekerja atau berusaha menghasilkan
pendapatan (uang) minimal cukup untuk membeli barang-barang pokok sebangsa
makanan dan minuman. Memanjakan diri dengan makanan dan minuman dari hutang
sangat berbahaya, karena Anda secara mental tak lagi mampu mengenali batas
kemampuan penghasilan Anda. Oleh karenanya bayarlah tunai semua kebutuhan pokok
Anda atau jika menggunakan kartu kredit hanya sekedar untuk kemudahan
pembayaran.
2.
Jangan berhutang untuk membiayai gaya hidup
Gengsi dan gaya hidup merupakan godaan terbesar untuk berhutang. Apalagi
iklan, acara TV, media sosial seolah-olah menjadikan atribut fisik sebagai
satu-satu indikator kualitas seseorang. Gaya hidup dipersepsikan sebagai simbol
eksistensi seseorang dalam kelompoknya. Padahal jika diketahui orang lain bahwa
gengsi dan gaya hidup didapat dari hutang, maka akan hilanglah seketika nilai
gengsi dan gaya hidup itu.
3.
Jangan berhutang untuk orang lain
Kadang teman atau keluarga datang meminta bantuan Anda mengambil hutang atas
namanya. Alasannya bisa disebabkan yang bersangkutan tak memiliki akses atau
kalo mengajukan sendiri dirasakan tak
berhasil. Apapun alasannya, jangan pernah lakukan itu. Hutang yang sehat
apabila pendapatan Anda sekarang mampu untuk membayar pokok dan bunganya.
Pendapatan Anda, bukan pendapatan orang lain. Anda tak akan pernah bisa
memantau atau mengendalikan pendapatan orang lain.
4.
Jangan berhutang untuk di-kemplang
Tak boleh sekalipun dalam benak terlintas untuk tidak membayar hutang. Sekali Anda ngemplang apalagi kabur, maka
kondite Anda rusak, tak akan ada orang yang percaya lagi sama Anda. Mental Anda
juga rusak, karena Anda membenarkan diri sendiri untuk kabur dari kewajiban
Anda. Makanya dari awal Anda harus berhitung benar, pendapatan sekarang (saat
ini) mampu tidak membayar pokok dan bunga total hutang sampai lunas. Sebagai
pedoman, biasanya dipakai ukuran maksimal sepertiga penghasilan dipakai untuk
mambayar angsuran hutang. Jika melebihi sepertiga, stop hutang, atau tingkatkan
dulu penghasilan Anda.
Jika Anda sudah memahami kapan hutang bermanfaat dan
kapan hutang harus dihindari, berikutnya Anda harus tahu fitur hutang, beberapa
diantaranya:
1.
Sumber hutang
Sebaiknya berhutang dari lembaga resmi semacam Bank atau lembaga keuangan
bukan bank (multifinance, pegadaian). Institusi resmi akan menjamin
keterbukaan, pelayaan dan fairness bagi Anda sebagi debitur. Umumnya pengawasan
terhadap institusi ini sangat ketat (dilakukan oleh Bank Indonesia dan Otoritas
Jasa Keuangan) Hindari berhutang dari lembaga tidak resmi apalagi perorangan,
karena akan repot bagi Anda jika terjadi masalah.
2.
Jenis hutang
Sesuaikan tujuan pembiayaan dengan jenis hutang. Untuk beli rumah pakai
Kredit Pemilikan Rumah (KPR), jangan menggunakan multiguna. Memang kredit
multiguna fleksibel, namun mengenakan bunga dna biaya lebih mahal.
3.
Jangka waktu
Makin panjang jangka waktu biasanya makin kecil angsuran. Akan tetapi tetap
harus disesuaikan dengan brang yang kita beli. Barang seperti gadget dan
komputer umumnya tak lebih dari dua tahun sedangkan kendaraan maksimal 5 tahun.
Khusus untuk rumah dan
tanah, makin lama makin bagus. Prospek property di Indonesia masih baik, dimana
pertumbuhan nilai dna harganya masih menjanjikan dalam jangka panjang.
4.
Suku bunga
Persaingan yang ketat, menekan suku bunga. Tetap Anda harus waspada dengan
istilah-istilah yang dipakai. Intinya, tanyakan suku bunga efektif yakni suku
bunga yang dihitung dari pokok yang turun karena adanya angsuran. Kredit
multiguna, KPM dan KTA menggunakan suku bunga flat (tetap) yang dihitung dari
pokok awal, bukan pokok menurun). Sebagai contoh, kalau Anda dikenakan suku
bunga 5% flat setahun artinya itu sama dengan suku bunga 10% pertahun efektif.
5.
Agunan
Rumus sederhananya jika ada jaminan, maka bunga kecil.
Tanpa jaminan, bunga mahal. Usahakan barang yang kita beli sebagai agunan
(misalnya KPR, KPM). Mengenai pembelian gadget dan komputer, dipersamakan
sebagai hutang tanpa agunan, sehingga bunga yang dikenakan cukup tinggi.
Sebagai kesimpulan hutang memang memiliki dua sisi. Saya
percaya bahwa pengelolaan hutang yang bagus, akan membuat hidup kita nyaman.
Itulah sesungguhnya arti financial freedom.Ketika Anda leluasa menikmati hidup
dari penghasilan Anda, walau Anda tetap punya hutang.
Oka Widana
www.okawidana.blogspot.com
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.solusi-kampiun.blogspot.com