Seringkali kita mendapat gambaran Pemimpin yang baik adalah
yang disatu sisi, gayanya kekeluargaan, supple dan low profile. Disis yang lain, dia haruslah
cukup tegas untuk memastikan peraturan dan ketentuan perusahaan dijalankan
dengan sebaiknya-baiknya. Pemimpin yang baik tak akan segan mengeluarkan
teguran bahkan peringatan, sebagaimana tak akan juga pelit, yang bersangkutan
untuk memuji dan memberikan penghargaan jika anak buahnya berprestasi. Pemimpin yang
baik memiliki standar etika kerja maupun moral yang tinggi. Menjadi role model
bagi para bawahan, namun cukup rendah hati menerima kritik dan meminta maaf
jika berbuat salah.
Sayangnya realita dalam berbagai organisasi dan perusahaan, tidak seperti itu. Maksud saya, Pemimpin perusahaan sebagian besar tidak
seperti gambaran ideal diatas. Target KPI
(terutama yang sifatnya finansial, alias profit) telah mendorong
kesamping sisi humanis Pemimpin, dan mengubahnya hanya menjadi Mandor. Mandor alias tukang
perintah yang sekedar menginginkan tugas beres dilaksanakan dan untung. Ukuran
keberhasilan Pemimpin pun berubah, yakni seberapa besar dia mampu menghasilkan
keuntungan finansial bagi perusahaan.
Pemimpin Mandor mudah dikenali, dengan beberapa ciri antara lain:
- Sibuk bercerita soal
prestasinya dimasa lalu, lupa bahwa masa depan punya ceritanya sendiri.
- Asyik mendengarkan suaranya sendiri,
tidak punya waktu memperhatikan apalagi mencerna masukan par abawahannya.
- Tak malu mengklaim semua pencapaian atas
jasanya sebagai pemimpin, padahal dengan mengakui prestasi bawahannya,
otomatis menjadi prestasinya juga sebagai boss.
- Fokus kepada tujuan jangka pendek dan abai terhadap visi pengembangan organisasi. Akibatnya banyak anggota organisasi yang tak kerasan, karyawan keluar
masuk, karena merasa dianggap sapi perahan.
- Menciptakan lingkungan kerja sesuai
egonya, sedangkan dalam suatu organisasi banyak ego lainnya, walaaupun hanya seorang bawahan.
- Menjadi jenderal yang jago teori dari
belakang meja, bukannya jenderal lapangan yang mampu memimpin dari semua
lini.
Dalam hal ini,
siapapun yang menjadi Pemimpin harus berhati-hati, karena organisasi dijalankan
oleh manusia. Target finansial penting, namun memanusiakan anggota organisasi
merupakan tujuan yang lebih utama.
Saya cenderung
menyarankan agar tujuan finansial tadi diangap sebagai TUJUAN ANTARA. Kenapa
demikian ? karena jelas bahwa tujuan finansial tidak pernah ”fixed” (moving
target) setiap tahun umumnya naik. Bahkan dalam banyak contoh margin
kenaikannya yang menjadi KPI.
Bagaimana
mungkin berhasil dalam jangka panjang, seorang Pemimpin mandor terus menerus ”menghardik” bawahannya agar
tiap tahun bisa mencapai target finansial yang terus naik? Jawabannya jelas, TIDAK.
Kebalikan dari Pemimpin mandor adalah pemimpin humanis yang memanusiakan anggota
organisasinya. Disebut Pemimpin humanis apabila dia sanggup melayani, men-”transform” dan
memberdayakan (enpower) semua bawahannya agar mampu secara bersama-sama, bahu
membahu, bergotong royong menciptakan organisasi hebat (great organization).
Yang berhak melabeli dirinya, organisasi hebat jika:
- Sanggup dibebani target financial
yang terus bergerak.
- Siapapun orang yang keluar darinya,
akan menjadi orang hebat diorganisasi yang dimasukinya dan membuat
organisasi barunya menjadi hebat.
- Siapapun orang baru yang masuk
kedalamnya akan larut dan menyesuaikan diri, kemudian merubah dirinya
menjadi orang hebat.
- Memiliki daya juang tinggi dalam
situasi sulit
- Anggota organisasi menjadi anggota
keluarga
Pemimpin humanis yang menciptakan organisasi hebat, layak diberi predikat sebagai Pemimpin hebat. Tipe Pemimpin hebatkah yang akan memiliki jaminan keberlangsungan pencapain tujuan apapun yang dibebankan kepada organisasi yang dipimpinnya.
Oka Widana
okawidana.blogspot.com
solusi-kampiun.blogpsot.com
@ahli_keuangan
@owidana