Wednesday, September 25, 2013

Pemimpin Mandor vs Pemimpin Hebat

Seringkali kita mendapat gambaran Pemimpin yang baik adalah yang disatu sisi, gayanya kekeluargaan, supple dan low profile. Disis yang lain, dia haruslah cukup tegas untuk memastikan peraturan dan ketentuan perusahaan dijalankan dengan sebaiknya-baiknya. Pemimpin  yang baik tak akan segan mengeluarkan teguran bahkan peringatan, sebagaimana tak akan juga pelit, yang bersangkutan untuk memuji dan memberikan penghargaan jika anak buahnya berprestasi. Pemimpin yang baik memiliki standar etika kerja maupun moral yang tinggi. Menjadi role model bagi para bawahan, namun cukup rendah hati menerima kritik dan meminta maaf jika berbuat salah.

Sayangnya  realita dalam berbagai organisasi dan perusahaan,  tidak seperti itu. Maksud saya, Pemimpin perusahaan sebagian besar tidak seperti gambaran ideal diatas. Target KPI  (terutama yang sifatnya finansial, alias profit) telah mendorong kesamping sisi humanis Pemimpin, dan mengubahnya hanya menjadi Mandor. Mandor alias tukang perintah yang sekedar menginginkan tugas beres dilaksanakan dan untung. Ukuran keberhasilan Pemimpin pun berubah, yakni seberapa besar dia mampu menghasilkan keuntungan finansial bagi perusahaan.

Pemimpin Mandor mudah dikenali, dengan beberapa ciri antara lain:
  1. Sibuk bercerita soal prestasinya dimasa lalu, lupa bahwa masa depan  punya ceritanya sendiri.
  2. Asyik mendengarkan suaranya sendiri, tidak punya waktu memperhatikan apalagi mencerna masukan par abawahannya.
  3. Tak malu mengklaim semua pencapaian atas jasanya sebagai pemimpin, padahal dengan mengakui prestasi bawahannya, otomatis menjadi prestasinya juga sebagai boss.
  4. Fokus kepada tujuan jangka pendek dan abai terhadap visi pengembangan organisasi. Akibatnya banyak anggota organisasi yang tak kerasan, karyawan keluar masuk, karena merasa dianggap sapi perahan.
  5. Menciptakan lingkungan kerja sesuai egonya, sedangkan dalam suatu organisasi banyak ego lainnya, walaaupun hanya seorang bawahan.
  6. Menjadi jenderal yang jago teori dari belakang meja, bukannya jenderal lapangan yang mampu memimpin dari semua lini.

Dalam hal ini, siapapun yang menjadi Pemimpin harus berhati-hati, karena organisasi dijalankan oleh manusia. Target finansial penting, namun memanusiakan anggota organisasi merupakan tujuan yang lebih utama.

Saya cenderung menyarankan agar tujuan finansial tadi diangap sebagai TUJUAN ANTARA. Kenapa demikian ? karena jelas bahwa tujuan finansial tidak pernah ”fixed” (moving target) setiap tahun umumnya naik. Bahkan dalam banyak contoh margin kenaikannya yang menjadi KPI.

Bagaimana mungkin berhasil dalam jangka panjang, seorang Pemimpin mandor terus menerus ”menghardik” bawahannya agar tiap tahun bisa mencapai target finansial yang terus naik? Jawabannya jelas, TIDAK.

Kebalikan dari Pemimpin mandor adalah pemimpin humanis yang memanusiakan anggota organisasinya.  Disebut Pemimpin humanis apabila dia sanggup melayani, men-”transform” dan memberdayakan (enpower) semua bawahannya agar mampu secara bersama-sama, bahu membahu, bergotong royong menciptakan organisasi hebat (great organization).

Yang berhak melabeli dirinya, organisasi hebat jika:
  1. Sanggup dibebani target financial yang terus bergerak.
  2. Siapapun orang yang keluar darinya, akan menjadi orang hebat diorganisasi yang dimasukinya dan membuat organisasi barunya menjadi hebat.
  3. Siapapun orang baru yang masuk kedalamnya akan larut dan menyesuaikan diri, kemudian merubah dirinya menjadi orang hebat.
  4. Memiliki daya juang tinggi dalam situasi sulit
  5. Anggota organisasi menjadi anggota keluarga

Pemimpin humanis yang menciptakan organisasi hebat, layak diberi predikat sebagai Pemimpin hebat. Tipe Pemimpin hebatkah yang akan memiliki jaminan keberlangsungan pencapain tujuan apapun yang dibebankan kepada organisasi yang dipimpinnya. 


Oka Widana
okawidana.blogspot.com
solusi-kampiun.blogpsot.com
@ahli_keuangan
@owidana

No comments:

Post a Comment