Thursday, June 20, 2013

Soal Gadget


Smartphone semacam Black berry, Android (semisal merek Samsung, Sony , HTC dlsb) dan Iphone tidak dapat dipungkiri sudah menjadi bagian perlengkapan pribadi harian seseorang. Tidak memandang eksekutif, direksi, manajer maupun karyawan biasa, semua menyandangnya, malah kebanyakan lebih dari satu. Saya perhatikan, demikian attachment semua orang terhadap gadget-nya masing-masing, barangkali ketika tidur saja, barulah itu gadget lepas dari jangkauan.

Ketika rapat perusahaan, bertemu client, bahkan acara makan malam beserta keluarga, seseorang masih saja tekun, entah sekedar mengecek email masuk, browsing berita, status update di jaringan sosial (twiter, facebook) atau berchating ria (via BBM, YM, Gtalk atau Whatsup). Apakah sikap seseorang yang begitu terhubung dan makmum dengan gadget sudah cukup menggangu? Relatif sih. Jika sedang sorangan wae nunggu busway atau KRL, silahkan bergadget-autis. Akan tetapi ketika menghadiri rapat perusahaan, client meeting atau makan dengan keluarga, kita harus focus. Gadget harus disingkirkan untuk sementara.

Beberapa kali ketika memimpin rapat, saya  menegur peserta, karena yang bersangkutan asyik dengan gadgetnya. Memang seringkali, peserta yang saya tegur itu beralasan bahwa dia sedang BBM-an dengan client menyangkut hal penting. Akan tetapi menurut pengalaman saya, itu hanya alasan. Sebenarnya, karena yang bersangkutan bosan dengan isi rapat, merasa tak relevan atau memang cuek. Hanya sedikit yang benar-benar harus merespon BBM saat itu juga, karena terkait hidup mati perusahaan. Gak lah…..jikapun demikian, bagi saya tak relevan jika peserta rapat itu datang ke rapat, lebih baik dia memprioritaskan untuk membereskan masalahnya dengan segera.

Didalam level perusahaan saya sangat menyarankan agar ditanamkan consensus dan culture yang jelas. Bahwa gadget adalah salah satu tools untuk komunikasi, bukan satu-satunya, anyway bukan yang paling utama pula. Semua alat komunikasi harus dimanfaatkan maksimal, termasuk komunikasi tatap muka dan bicara langsung (bukan via SMS atau BBM). Misalnya, jika menghadiri rapat, maka semua gadget harus diletakkan diatas meja dan silent mode. Otomatis peserta rapat akan rikuh, ketika mau membuka gadgetnya at least berfikir beberapa kali. Jika memang harus memberikan respon (sekali lagi sangat jarang), peserta rapat itu hendaknya keluar ruang rapat (even sekedar membalas BBM atau email) agar yang lain tak terganggu.

Lebih jauh perusahaan harus menekankan bahwa komunikasi sebaiknya dilakukan langsung, tatap muka atau setidaknya bicara lewat telpon. Terus terang saya heran dengan kebiasaan di Indonesia, dimana BBM (tadinya SMS) lebih dominan daripada komunikasi telpon. Mungkin karena tak bertemu langsung, sehingga jika bohong tak ketahuan? Di beberapa perusahaan yang memfasilitas allowance untuk telpon, sebaiknya membentuk CUG (Client User Group) dibawah satu operator tertentu,  sehingga komunikasi antar anggota CUG bisa gratis (ada abodemen bulanan).

Saya merekomendasikan penggunaan email daripada SMS/BBM/Whatsup, toh dengan email dimungkinkan menulis pesan yang lebih panjang, yang membuat efektifitas komunikasi via email lebih tinggi. So, bagaimana dengan conference atau group discussión? Sekali lagi bagi saya group discussión via BBM/Whatsup sebaiknya dihindari. Toh tersedia fasilitas conference call dan multi-recepients pada email atau memanfaatkan mailing list semacam yahoogroups atau googlegroups.

Saya memandang, dengan memberikan penekanan prioritas  komunikasi langsung (at least via telpon), akan meruntuhkan barrier komunikasi dari seluruh lini organisasi. Para karyawan level paling bawah, akan dengan tak sungkan menelpon  pejabat yang levelnya jauh diatasnya. Perusahaan tak perlu susah payah mendorong karyawan berani “speak up” yakni menyuarakan hal-hal yang tidak pada tempatnya yang terjadi dilapangan. Memang untuk ukuran budaya timur ada beberapa hal menyangkut kesopan-santunan yang perlu ditegakkan dalam berkomunikasi. Akan tetapi menurut saya hal ini soal kecil, efektifitas komunikasi dari seluruh lini perusahaan merupakan capability penting yang dimiliki perusahaan.

Salam,


Oka Widana
www.solusi-kampiun.blogspot.com
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.okawidana.blogspot.com
@owidana
@ahli_keuangan


No comments:

Post a Comment