Smartphone semacam Black berry, Android (semisal merek
Samsung, Sony , HTC dlsb) dan Iphone tidak dapat dipungkiri sudah menjadi
bagian perlengkapan pribadi harian seseorang. Tidak memandang eksekutif,
direksi, manajer maupun karyawan biasa, semua menyandangnya, malah kebanyakan
lebih dari satu. Saya perhatikan, demikian attachment semua orang terhadap
gadget-nya masing-masing, barangkali ketika tidur saja, barulah itu gadget lepas dari
jangkauan.
Ketika rapat perusahaan, bertemu client, bahkan acara makan
malam beserta keluarga, seseorang masih saja tekun, entah sekedar mengecek
email masuk, browsing berita, status update di jaringan sosial (twiter,
facebook) atau berchating ria (via BBM, YM, Gtalk atau Whatsup). Apakah sikap
seseorang yang begitu terhubung dan makmum dengan gadget sudah cukup menggangu?
Relatif sih. Jika sedang sorangan wae nunggu busway atau KRL, silahkan
bergadget-autis. Akan tetapi ketika menghadiri rapat perusahaan, client meeting
atau makan dengan keluarga, kita harus focus. Gadget harus disingkirkan untuk
sementara.
Beberapa kali ketika memimpin rapat, saya menegur peserta,
karena yang bersangkutan asyik dengan gadgetnya. Memang seringkali, peserta
yang saya tegur itu beralasan bahwa dia sedang BBM-an dengan client menyangkut
hal penting. Akan tetapi menurut pengalaman saya, itu hanya alasan. Sebenarnya,
karena yang bersangkutan bosan dengan isi rapat, merasa tak relevan atau memang
cuek. Hanya sedikit yang benar-benar harus merespon BBM saat itu juga, karena
terkait hidup mati perusahaan. Gak lah…..jikapun demikian, bagi saya tak
relevan jika peserta rapat itu datang ke rapat, lebih baik dia memprioritaskan
untuk membereskan masalahnya dengan segera.
Didalam
level perusahaan saya sangat menyarankan agar ditanamkan consensus dan culture
yang jelas. Bahwa gadget adalah salah satu tools untuk komunikasi, bukan
satu-satunya, anyway bukan yang paling utama pula. Semua alat komunikasi harus
dimanfaatkan maksimal, termasuk komunikasi tatap muka dan bicara langsung
(bukan via SMS atau BBM). Misalnya, jika menghadiri rapat, maka semua gadget
harus diletakkan diatas meja dan silent mode. Otomatis peserta rapat akan
rikuh, ketika mau membuka gadgetnya at least berfikir beberapa kali. Jika
memang harus memberikan respon (sekali lagi sangat jarang), peserta rapat itu
hendaknya keluar ruang rapat (even sekedar membalas BBM atau email) agar yang
lain tak terganggu.
Lebih
jauh perusahaan harus menekankan bahwa komunikasi sebaiknya dilakukan langsung,
tatap muka atau setidaknya bicara lewat telpon. Terus terang saya heran dengan
kebiasaan di Indonesia, dimana BBM (tadinya SMS) lebih dominan daripada
komunikasi telpon. Mungkin karena tak bertemu langsung, sehingga jika bohong
tak ketahuan? Di beberapa perusahaan yang memfasilitas allowance untuk telpon,
sebaiknya membentuk CUG (Client User Group) dibawah satu operator tertentu, sehingga komunikasi antar anggota CUG bisa
gratis (ada abodemen bulanan).
Saya
merekomendasikan penggunaan email daripada SMS/BBM/Whatsup, toh dengan email
dimungkinkan menulis pesan yang lebih panjang, yang membuat efektifitas komunikasi via email lebih tinggi. So, bagaimana dengan conference atau group discussión?
Sekali lagi bagi saya group discussión via BBM/Whatsup sebaiknya dihindari. Toh
tersedia fasilitas conference call dan multi-recepients pada email atau memanfaatkan mailing list semacam yahoogroups atau googlegroups.
Saya
memandang, dengan memberikan penekanan prioritas komunikasi langsung (at least
via telpon), akan meruntuhkan barrier komunikasi dari seluruh lini organisasi.
Para karyawan level paling bawah, akan dengan tak sungkan menelpon pejabat yang levelnya jauh diatasnya. Perusahaan tak
perlu susah payah mendorong karyawan berani “speak up” yakni menyuarakan
hal-hal yang tidak pada tempatnya yang terjadi dilapangan. Memang untuk ukuran budaya
timur ada beberapa hal menyangkut kesopan-santunan yang perlu ditegakkan dalam
berkomunikasi. Akan tetapi menurut saya hal ini soal kecil, efektifitas
komunikasi dari seluruh lini perusahaan merupakan capability penting yang
dimiliki perusahaan.
Salam,
Oka Widana
www.solusi-kampiun.blogspot.com
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.okawidana.blogspot.com
@owidana
@ahli_keuangan
No comments:
Post a Comment