Thursday, January 16, 2014

Hutang, Apakah Diperlukan?

Catatan: Artikel ini telah dimuat dimajalah Esquire, edisi 8i, bulan November 2013


Seringkali kita mendengar dari banyak Perencana/Penasehat Keuangan (Financial Planner/Advisor) yang mewanti-wanti agar kita bersikap konservatif soal hutang ini. Bahkan ada beberapa orang yang alergi sehingga menyarankan untuk menghindari hutang.  Tak terlalu salah pandangan ini, namun bukan benar sepenuhnya. Pada jaman moderen ini, hutang merupakan bagian dari infrastruktur yang menopang perkembangan ekonomi.

Ditengah derasnya penawaran produk-produk pinjaman dari Bank (maupun perusahaan multi finance), dengan variasi fitur dan manfaat yang dijanjikan bagi nasabah, bukankah sebaiknya kita memanfaatkannya? Karena menurut saya, tidak ada satu Bank pun yang menawarkan pinjaman, dengan tujuan untuk mempersulit nasabah. Bank berharap agar pinjaman yang diberikannya dapat dikembalikan dengan lancar berikut bunganya. Justru kita, para nasabah inilah, yang menjerat diri sendiri dengan hutang yang berlebihan, tak produktif atau salah sasaran .

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda. Hutang justru diperlukan. Dengan catatan, sepanjang hutang dipakai untuk membiayai hal-hal yang mendatangkan mafaat dalam jangka panjang. Saya memberi penekanan pada ”manfaat dalam jangka panjang”, yang merupakan kunci menjadikan hutang untuk keuntungan kita.

Hutang dapat Anda pakai untuk meningkatkan assets (nilai kekayaan) dengan cepat. Sebaliknya hutang bisa juga memiskinkan Anda. Terserah kepada kita masing-masing dalam mengelola hutang itu. Makin piawai Anda mensiasati penggunaan hutang, ada bisa makin agresif. Tentu dalam kondisi apapun jangan melampaui batas yaitu penghasilan Anda saat sekarang dalam membayar angsuran atau pokok hutnag jatuh tempo. Kembali saya tekankan istilah  ”penghasilan saat sekarang”, bukan penghasilan yang anda harapkan terjadi dimasa yang akan datang. Ini merupakan kunci sehatnya keuangan Anda (walau punya hutang).

Bagaimana logikanya menyebut hutang sebagai alat untuk meningkatkan kekayaan? Sederhana saja jawabanannya, karena peningkatan nilai aset-aset tertentu lebih cepat daripada peningkatan penghasilan Anda. Karenanya hutang bisa menjadi jalan keluar, yakni selama memenuhi syarat atau kondisi sebagai berikut:

1.      Hutang prioritas
Disebut hutang prioritas karena inilah hutang yang harus secepat mungkin Anda buat ketika Anda memiliki penghasilan, yaitu hutang untuk membeli rumah yang akan ditempati keluarga (istri/suami dan anak-anak). Ini menyangkut kewajiban melindungi harta yang paling bernilai bagi kita yakni keluarga (Istri/suami dan anak-anak). Saya sebut hutang prioritas, karena biasanya pada saat membeli rumah pertama, kita belum punya uang yang cukup untuk membeli rumah, sedangkan harga rumah terus menggelembung. Alasan lain berhutang untuk membeli rumah pertama rumah juga berperan meningkatkan produktifitas dan sebagai alat investasi.



2.      Hutang untuk produktivitas
Pembelian barang-barang dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas kerja, boleh dengan berhutang. Yang disebut peningkatan produktifitas jika terjadi peningkatan penghasilan. Jadi mau beli kendaraan (mobil, motor), notebook ataupun tablet silahkan saja, selama Anda yakin bahwa barang-barang itu akan meningkatkan prestasi kerja yang bermuara pada naiknya penghasilan Anda. Sehingga, dalam hal ini hutang juga meningkatkan kekayaan Anda, secara tak langsung. Patut diingat bahwa peningkatan produktifitas, sama sekali tak berhubungan dengan peningkatan gengsi. Artinya ketika memilih alat-alat peningkatan produktifitas dengan berhutang, aspek fungsionalitas menjadi kriteria terpenting. Gampangnya, beli manfaat bukan beli merek.

3.      Hutang tujuan investasi
Pembiayaan investasi boleh berasal dari hutang jika hasil dari investasi lebih besar dari biaya hutang. Keuntungan investasi pasti akan memperbaiki penghasilan Anda dimasa yang akan datang dan meningkatkan nilai kekayaan Anda. Yang harus diingat bahwa resiko kegagalan melekat pada setiap investasi, karenanya Anda harus berhitung benar dalam hal ini. Saya tidak sepenuhnya mengikuti nasehat beberapa Perencana/Penasehat Keuangan yang bilang bahwa investasi harus hanya dibiayai dari tabungan Anda. Investasi pada propery (rumah, tanah) dan emas bisa menggunakan hutang karena menjanjikan keuntungan yang stabil dan cukup bagus. Akan tetapi untuk investasi pada saham, obligasi, reksa dana, saya kira sebaiknya tetap dibiayai dari tabungan Anda. Perlu saya tambahkan bahwa pendidikan yang lebih baik untuk Anda dan keluarga termasuk investasi, maka sangat syah jika Anda berhutang untuk tujuan tersebut.

4.      Hutang keadaan darurat
Jika keadaan darurat, seperti keluarga sakit, tak akan ada yang menyalahkan Anda karena berhutang Menyangkut  hidup atau  mati, maka hutang tak menjadi tabu.

Untuk menjaga agar hutang tidak memiskinkan Anda,  maka  hal-hal dibawah harus dihindari, yakni:

1.      Jangan berhutang untuk barang-barang pokok sehari-hari.
Ini soal paradigma bahwa, kita bekerja atau berusaha menghasilkan pendapatan (uang) minimal cukup untuk membeli barang-barang pokok sebangsa makanan dan minuman. Memanjakan diri dengan makanan dan minuman dari hutang sangat berbahaya, karena Anda secara mental tak lagi mampu mengenali batas kemampuan penghasilan Anda. Oleh karenanya bayarlah tunai semua kebutuhan pokok Anda atau jika menggunakan kartu kredit hanya sekedar untuk kemudahan pembayaran.

2.      Jangan berhutang untuk membiayai gaya hidup
Gengsi dan gaya hidup merupakan godaan terbesar untuk berhutang. Apalagi iklan, acara TV, media sosial seolah-olah menjadikan atribut fisik sebagai satu-satu indikator kualitas seseorang. Gaya hidup dipersepsikan sebagai simbol eksistensi seseorang dalam kelompoknya. Padahal jika diketahui orang lain bahwa gengsi dan gaya hidup didapat dari hutang, maka akan hilanglah seketika nilai gengsi dan gaya hidup itu.

3.      Jangan berhutang untuk orang lain
Kadang teman atau keluarga datang meminta bantuan Anda mengambil hutang atas namanya. Alasannya bisa disebabkan yang bersangkutan tak memiliki akses atau kalo mengajukan sendiri  dirasakan tak berhasil. Apapun alasannya, jangan pernah lakukan itu. Hutang yang sehat apabila pendapatan Anda sekarang mampu untuk membayar pokok dan bunganya. Pendapatan Anda, bukan pendapatan orang lain. Anda tak akan pernah bisa memantau atau mengendalikan pendapatan orang lain.

4.      Jangan berhutang untuk di-kemplang
Tak boleh sekalipun dalam benak terlintas untuk tidak membayar hutang.  Sekali Anda ngemplang apalagi kabur, maka kondite Anda rusak, tak akan ada orang yang percaya lagi sama Anda. Mental Anda juga rusak, karena Anda membenarkan diri sendiri untuk kabur dari kewajiban Anda. Makanya dari awal Anda harus berhitung benar, pendapatan sekarang (saat ini) mampu tidak membayar pokok dan bunga total hutang sampai lunas. Sebagai pedoman, biasanya dipakai ukuran maksimal sepertiga penghasilan dipakai untuk mambayar angsuran hutang. Jika melebihi sepertiga, stop hutang, atau tingkatkan dulu penghasilan Anda.

Jika Anda sudah memahami kapan hutang bermanfaat dan kapan hutang harus dihindari, berikutnya Anda harus tahu fitur hutang, beberapa diantaranya:

1.      Sumber hutang
Sebaiknya berhutang dari lembaga resmi semacam Bank atau lembaga keuangan bukan bank (multifinance, pegadaian). Institusi resmi akan menjamin keterbukaan, pelayaan dan fairness bagi Anda sebagi debitur. Umumnya pengawasan terhadap institusi ini sangat ketat (dilakukan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan) Hindari berhutang dari lembaga tidak resmi apalagi perorangan, karena akan repot bagi Anda jika terjadi masalah.

2.      Jenis hutang
Sesuaikan tujuan pembiayaan dengan jenis hutang. Untuk beli rumah pakai Kredit Pemilikan Rumah (KPR), jangan menggunakan multiguna. Memang kredit multiguna fleksibel, namun mengenakan bunga dna biaya lebih mahal. 

3.      Jangka waktu
Makin panjang jangka waktu biasanya makin kecil angsuran. Akan tetapi tetap harus disesuaikan dengan brang yang kita beli. Barang seperti gadget dan komputer umumnya tak lebih dari dua tahun sedangkan kendaraan maksimal 5 tahun. Khusus untuk rumah dan tanah, makin lama makin bagus. Prospek property di Indonesia masih baik, dimana pertumbuhan nilai dna harganya masih menjanjikan dalam jangka panjang.

4.      Suku bunga
Persaingan yang ketat, menekan suku bunga. Tetap Anda harus waspada dengan istilah-istilah yang dipakai. Intinya, tanyakan suku bunga efektif yakni suku bunga yang dihitung dari pokok yang turun karena adanya angsuran. Kredit multiguna, KPM dan KTA menggunakan suku bunga flat (tetap) yang dihitung dari pokok awal, bukan pokok menurun). Sebagai contoh, kalau Anda dikenakan suku bunga 5% flat setahun artinya itu sama dengan suku bunga 10% pertahun efektif.

5.      Agunan
Rumus sederhananya jika ada jaminan, maka bunga kecil. Tanpa jaminan, bunga mahal. Usahakan barang yang kita beli sebagai agunan (misalnya KPR, KPM). Mengenai pembelian gadget dan komputer, dipersamakan sebagai hutang tanpa agunan, sehingga bunga yang dikenakan cukup tinggi.

Sebagai kesimpulan hutang memang memiliki dua sisi. Saya percaya bahwa pengelolaan hutang yang bagus, akan membuat hidup kita nyaman. Itulah sesungguhnya arti financial freedom.Ketika Anda leluasa menikmati hidup dari penghasilan Anda, walau Anda tetap punya hutang.

Oka Widana
www.okawidana.blogspot.com
www.ahlikeuangan-indonesia.com
www.solusi-kampiun.blogspot.com

No comments:

Post a Comment